Selasa, 21 Januari 2014

Penampakan miss Kunti di Sumur Tua




Kejadian ini yang mengalami adalah ibu ku. Aku sudah lupa waktu dan tanggalnya kapan.
Sedikit gambaran tentang rumah kami, kami tinggal di sebuah kompleks panti sosial, karena ayah ku adalah seorang PNS  yang  bekerja di situ. Rumah dinas yang kami tempati kesanya memang agak sedikit angker karena di belakang rumah kami banyak di tumbuhi pohon pisang. Dan terdapat pula sebuah sumur tua di situ.
Suatu sore, pas dah lewat magrib ibu ku mau ke tempat penampungan air untuk mengecek persediaan air,  letaknya sekitar 30an meter di belakang rumah kami, dan kalau mau ke sana harus melewati sumur tua itu. Mana peneranganya juga tak cukup, nuansanya remang-remang gitu.
 pas perginya ibuku tak merasakan yang aneh-aneh, (padahal sumpah,, ibu ku itu orangnya penakut banget). Setelah selesai mengecek air, ibu ku langsung pulang, nah pas jaraknya udah sekitar 5 meter dari sumur, sontak ibu ku kaget karena dia melihat satu sosok ber gaun putih lusuh sedang berdiri membelakangi  ibu ku. Untuk sepersekian detik ibu ku diam terpaku (mungkin terkesima kali ya.. hehehe :D), dan setelah sadar apa yang ada di hadapanya adalah sesosok hantu legendaris Indonesia :D maka ibu ku berdoa sebisa dan semampunya ( karna ku yakin pasti pada saat itu ibuku gemetar hebat), tak berapa lamapun akirnya sosok itu menghilang, dan dengan sisa-sisa tenaganya ibu ku langsung ambil langkah seribu.
Ketika sampai di rumah, kami heran, mengapa wajah ibu ku pucat dan seperti ketakutan, tetapi beliau tak menceritakan kejadian yang baru di alaminya itu, baru keesokan harinya ibu ku mau menceritakanya.
Dan usut punya usut memang dulu, dulu sekali ada seorang gadis yang mati karena di bunuh, dan untuk menghilangkan jejak, si pelaku membuang mayat gadis itu di sumur tua itu.
Yah,, semoga sukma mu tenang di alam sana.

Minggu, 19 Januari 2014

Urban legend : PERAWAN

Urban legend memang tak pernah habis. Seperti mahes yang baru saja berhasil “mengorek” salah satu urban legend di subang. Jika anda seorang perawan, maka berfikirlah 2kali untuk pindah ke rumah yang sudah lama ditinggal penghuninya. Jangan sampai kejadian yang menimpa Elisa (samaran) menimpamu. Khususnya jika kamu pindah ke rumah yang sudah lama kosong di subang.
Akhir bulan mei 2008, bersamaan dengan lulusnya aku, ayah mempunyai rezeki lebih dan kami dapat pindah ke rumah yang sudah kosong selama 3 tahun di pinggiran kota subang utara. Benar-benar kebahagiaan yang hampir sempurna, hingga bayang-bayang tawa canda itu hilang di suatu malam.
Malam itu setelah kami setelah makan malam, aku mengurung diri di kamar dengan berbagai materi untuk menempuh ujian masuk perguruan tinggi. Diiringi restu kedua orangtuaku, aku berkutat malam itu. Hingga akhirnya aku tertidur dan bermimpi.
Makhluk itu tinggi besar, dengan taring, dan mata yang merah menyala. Makhluk itu ada banyak, bentuknya hampir serupa, yang membedakan hanya tanduk di kepala mereka. Ada tanduk yang besar, kecil, lurus, bengkok. Mereka semua berusaha memegang tangan dan kakiku serta berusaha menyutubuhiku.
Sinar mentari membangunkanku. Ahh ternyata aku tertidur di meja belajar.
“Elis.. kamu gak subuh sayang??” Ibu mengetuk dan langsung bertanya dengan lembut.
“Lagi halangan, maah…” uhh, rasanya masih ngantuk.
“Ya sudah, ibu tunggu di ruang makan yah?” Lalu ku dengar suara langkah kaki menjauh.
Aku segera melesat ke kamar mandi, dan 15 menit kemudian aku sudah rapi.
Kami mengobrol di ruang makan sambil sarapan. Ayah, sudah siap dengan seragam polisinya. Terlihat berwibawa seperti biasa. Seminggu ini, aku sibuk mempersiapkan untuk ujian masuk perguruan tinggi.
Jadi tak ada yang aku lakukan selain belajar.
4 hari setelah itu….
GRRRRR…. AHHH….RRRR..
Aku dikelilingi makhluk-makhluk itu, mereka lebih banyak dari mimpi tempo hari. Mereka memegangku dengan kuat, aku berteriak sekeras mungkin untuk minta tolong, namun tak ada yang menggubris teriakanku. Sepertinya disini hanya aku manusia satu-satunya dan sedang diperlakukan kasar. Disini dingin, gelap, lembab, dan seperti tak ada matahari. Sementara aku tetap berusaha melawan serta tak lupa membaca doa yang selama ini ku hafal.
Ya Allah apa salahku? Padahal tadi sebelum tidur, aku sholat. Aku meminta pertolonganmu ya Allah.
Aku mengulang doa-doa itu, aku tetap mengingat Allah dalam kondisi itu. Namun apa daya? Aku tetap manusia biasa yang lemah. Seolah aku melawan mereka seharian. Saat aku benar-benar lelah tanpa daya. Mereka menyutubuhiku bergiliran.
Ya Allah, kenapa kau berikan cobaan yang berat ini pada hamba??
Aku menangis, benar-benar tak bisa dipercaya, aku dilecehkan, kesucianku hilang.
Ya Allah, sakit.
Rasanya seperti dirobek, tubuhku seperti dibanting, ngilu, sakit, seperti kehilangan seluruh hidupku saat itu.
Aku putus asa, entah sudah berapa puluh makhluk itu menyetubuhiku bergiliran.
Saat putus asa, kurasakan tubuhku ditarik kedalam tanah dibawahku. Secara pelan ku dengar lantunan ayat suci, dan kulihat beberapa orang mengelilingiku. Aku langsung duduk, ibu sontak memelukku, tangisku meledak.
Setahun kemudian setelah kejadian itu. Aku tinggal di kota kembang. Aku baru masuk kuliah, trauma itu tetap menghantuiku. Satu-satunya yang membuatku heran adalah selaput daraku masih utuh. Setidaknya begitulah kata dokter.
Tentang makhluk-makhluk itu, seorang tetua disini berkata.
“Eta jin anu cicing didieu saacan dicicingan ku jelema. Manehna moal bisa dipindahkeun. Biasana korbanna awewe nu paeh parawan, jadi ngagwean mayit. Kulantaran neng cicing pas hareupeun tempat eta jin kabeh cicing, jadi malah neng nu jadi korban. Mun kudu nyaho, neng masih untung di gawean ngan 40 poe, kaburu katulung. Biasana nepi saratus poe.”
Terjemahan:
“Itu jin yang selama ini tinggal disini sebelum manusia menempatinya. Mereka takkan bisa dipindahkan. Biasanya mereka menyetubuhi perempuan yang meninggal tapi masih perawan suci. Jadi, mereka menyetubuhi mayat. Namun karena kamu tinggal tepat didepan rumah mereka, malah kamu yang jadi korban. Masih untung hanya 40 hari, biasanya sampai seratus hari”
Aku benar-benar kaget. Ternyata masih ada hal-hal seperti itu.
Kini, aku sudah melupakan kejadian itu. Namun, rasa trauma saat pulang ke subang masih menghantuiku sampai sekarang.

Rabu, 15 Januari 2014

Someone Said Goodbye


Whether Alice was murdered by Len or not remained a dark question mark hanging in

my mind like the gallows. I cannot be certain of anything regarding her, her fantasy life
boundless. But, this I’m certain: Tonight, two women shared a double bed, Alice secure
with my hands tightly holding her uplifted buttocks. I shared
my life now with Alice, not Len.
I have a restraining order against him from coming near my house. Two weeks so far
without his jealous threats because he left town. We lived in a restored Victorian thanks
to the pricey meals at the vegetarian restaurant, people craving unadulterated food and
non-hazardous lives.
“I bought a rabbit I named Wobbly today. It’s in the basement, protected behind a wire
cage,” Alice said a few minutes after she plunged a ribbed vibrator into my Ms. V,
tickling my clit for what seemed hours of pleasure. “I fed him carrots tops, Swiss chard,
and broccoli this afternoon.” I owned Riff’s, a vegetarian restaurant. I let Alice order
anything from Riff’s menu, including food for Wobbly. I saved her from the dark
streets, strange men, and death at an early age.
The pressure from Len’s reappearance dissipated, the emotional valve releasing
most of it. “If you see Len before I do, holler.”
“A sorceress might help him get over his hurt, work on his spiritual double” she said.
Men like Len having a double meant twice the trouble, I no longer his sexually abused
partner.
“Sorcerers can’t heal beans, you now. Len’s a bad omen, a hurricane waiting to
drown us.” She smiled and went downstairs with bok choy for Wobbly. She came
back and read a fantasy novel. Looking up, she said:
“I sang an Enya song to Wobbly and he shook all over he was so pleased.”
“Sweet, if you see Len call me at Riff’s, kick my butt if I’m napping on the cushions
after a long day.”
“I really love The Sweet Far Thing, Gemma entering the Realms where anything
magical happens,” she said. “I love it when you call me ‘Sweet’.”
How comforting Alice’s nickname was, the one I gave her. It soothed to me when I
called her that. “Listen, Len’s the opposite of fantasy. He’s hardboiled and dangerous.
Stay clear of him.”
“A wizard petted Wobbly, Sue. His hands huge yet gentle. When I told him Wobbly
said to me, ‘Watch it, girlie, trouble brewing’, he squeezed Wobbly’s neck too hard.”
“Len, here?” I said disbelieving, her words’ fuzzy. “When I’m at Riff’s, don’t let
anyone in, that means Len.”
“I raised my shirt, the red and green one you bought me, to distract him and he
patted Wobbly’s soft white fur, and handed Wobbly to me and then touched my bare
breasts.” What went on in the basement? Damn, Len could get in through the exterior
door, steps leading down to the basement. He had the special key.
“Will you?” A demand more than a question. She nodded and walked upstairs to her
reading room. I let the talking rabbit business pass, Alice’s delusions as good as reading
novels. She had hundreds neatly shelved in a room on the third floor. A hour later she
went to the basement to feed Wobbly mustard greens.
“He told me he wanted to see more of me next time, giving me a wizard’s blink
blink, raising a fistful of starlight, saying he’d throw a lightening bolt at Wobbly if I
didn’t.”
Just then, my smartphone’s email pinged the first few notes of Christine Harnische’s
Etude Pathetique Opus 124 composed by Cecile Chaminade. She loved Enya’s fantasy
songs. Picture Y, two slanting lines our musical divergences. Those same slanted lines
meeting that upright line marked our conjoined exposed men in a boat. She fingered her
clit and that excited me and I wanted her hot friction. She was young while I was middle-
aged, my face wrinkled.
“Shit, Len’s in town,” I said after reading his email. Her face flushed as if sexually
aroused while Len stomped out my desire.
“I told the truth and you thought it was dreaminess and didn’t believe me.”
She went back to her reading room. I slept and woke up with a start. It was 3:30 a.m.
and no Alice. I checked upstairs and she wasn’t there. She took her mobile. My
smartphone did the Christine Harnische ringtone. The email read:
We listened to Enya’s, “Someone Said Goodbye” and then he
turned me into hot churned butter with his plunger. He won’t
bother you anymore. Didn’t we have fun, our wild sex so good?
He put a spell on me and turned me into cold, cold weather from
which I might not return. I’ll gift you something from the other
side. Don’t wait up for me, Susie Q.
I hit Alice’s reply five times, each bounced back: Mail System Error-Returned Mail,
Message undeliverable. The next morning I opened a bright, shiny box on my way to
Riff’s. Wobbly’s bloody head was inside.