Minggu, 19 Januari 2014

Urban legend : PERAWAN

Urban legend memang tak pernah habis. Seperti mahes yang baru saja berhasil “mengorek” salah satu urban legend di subang. Jika anda seorang perawan, maka berfikirlah 2kali untuk pindah ke rumah yang sudah lama ditinggal penghuninya. Jangan sampai kejadian yang menimpa Elisa (samaran) menimpamu. Khususnya jika kamu pindah ke rumah yang sudah lama kosong di subang.
Akhir bulan mei 2008, bersamaan dengan lulusnya aku, ayah mempunyai rezeki lebih dan kami dapat pindah ke rumah yang sudah kosong selama 3 tahun di pinggiran kota subang utara. Benar-benar kebahagiaan yang hampir sempurna, hingga bayang-bayang tawa canda itu hilang di suatu malam.
Malam itu setelah kami setelah makan malam, aku mengurung diri di kamar dengan berbagai materi untuk menempuh ujian masuk perguruan tinggi. Diiringi restu kedua orangtuaku, aku berkutat malam itu. Hingga akhirnya aku tertidur dan bermimpi.
Makhluk itu tinggi besar, dengan taring, dan mata yang merah menyala. Makhluk itu ada banyak, bentuknya hampir serupa, yang membedakan hanya tanduk di kepala mereka. Ada tanduk yang besar, kecil, lurus, bengkok. Mereka semua berusaha memegang tangan dan kakiku serta berusaha menyutubuhiku.
Sinar mentari membangunkanku. Ahh ternyata aku tertidur di meja belajar.
“Elis.. kamu gak subuh sayang??” Ibu mengetuk dan langsung bertanya dengan lembut.
“Lagi halangan, maah…” uhh, rasanya masih ngantuk.
“Ya sudah, ibu tunggu di ruang makan yah?” Lalu ku dengar suara langkah kaki menjauh.
Aku segera melesat ke kamar mandi, dan 15 menit kemudian aku sudah rapi.
Kami mengobrol di ruang makan sambil sarapan. Ayah, sudah siap dengan seragam polisinya. Terlihat berwibawa seperti biasa. Seminggu ini, aku sibuk mempersiapkan untuk ujian masuk perguruan tinggi.
Jadi tak ada yang aku lakukan selain belajar.
4 hari setelah itu….
GRRRRR…. AHHH….RRRR..
Aku dikelilingi makhluk-makhluk itu, mereka lebih banyak dari mimpi tempo hari. Mereka memegangku dengan kuat, aku berteriak sekeras mungkin untuk minta tolong, namun tak ada yang menggubris teriakanku. Sepertinya disini hanya aku manusia satu-satunya dan sedang diperlakukan kasar. Disini dingin, gelap, lembab, dan seperti tak ada matahari. Sementara aku tetap berusaha melawan serta tak lupa membaca doa yang selama ini ku hafal.
Ya Allah apa salahku? Padahal tadi sebelum tidur, aku sholat. Aku meminta pertolonganmu ya Allah.
Aku mengulang doa-doa itu, aku tetap mengingat Allah dalam kondisi itu. Namun apa daya? Aku tetap manusia biasa yang lemah. Seolah aku melawan mereka seharian. Saat aku benar-benar lelah tanpa daya. Mereka menyutubuhiku bergiliran.
Ya Allah, kenapa kau berikan cobaan yang berat ini pada hamba??
Aku menangis, benar-benar tak bisa dipercaya, aku dilecehkan, kesucianku hilang.
Ya Allah, sakit.
Rasanya seperti dirobek, tubuhku seperti dibanting, ngilu, sakit, seperti kehilangan seluruh hidupku saat itu.
Aku putus asa, entah sudah berapa puluh makhluk itu menyetubuhiku bergiliran.
Saat putus asa, kurasakan tubuhku ditarik kedalam tanah dibawahku. Secara pelan ku dengar lantunan ayat suci, dan kulihat beberapa orang mengelilingiku. Aku langsung duduk, ibu sontak memelukku, tangisku meledak.
Setahun kemudian setelah kejadian itu. Aku tinggal di kota kembang. Aku baru masuk kuliah, trauma itu tetap menghantuiku. Satu-satunya yang membuatku heran adalah selaput daraku masih utuh. Setidaknya begitulah kata dokter.
Tentang makhluk-makhluk itu, seorang tetua disini berkata.
“Eta jin anu cicing didieu saacan dicicingan ku jelema. Manehna moal bisa dipindahkeun. Biasana korbanna awewe nu paeh parawan, jadi ngagwean mayit. Kulantaran neng cicing pas hareupeun tempat eta jin kabeh cicing, jadi malah neng nu jadi korban. Mun kudu nyaho, neng masih untung di gawean ngan 40 poe, kaburu katulung. Biasana nepi saratus poe.”
Terjemahan:
“Itu jin yang selama ini tinggal disini sebelum manusia menempatinya. Mereka takkan bisa dipindahkan. Biasanya mereka menyetubuhi perempuan yang meninggal tapi masih perawan suci. Jadi, mereka menyetubuhi mayat. Namun karena kamu tinggal tepat didepan rumah mereka, malah kamu yang jadi korban. Masih untung hanya 40 hari, biasanya sampai seratus hari”
Aku benar-benar kaget. Ternyata masih ada hal-hal seperti itu.
Kini, aku sudah melupakan kejadian itu. Namun, rasa trauma saat pulang ke subang masih menghantuiku sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar